Kecanduan Obat Bisa Berpengaruh Pada Perilaku Kekerasan

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Substance Abuse Treatment, lebih dari 75 persen orang yang mengonsumsi obat-obatan kerap melakukan tindakan kekerasan, termasuk penjarahan, penyerangan fisik, dan menggunakan senjata untuk menyerang orang lain.

Hubungan Kecanduan Obat dan Kekerasan

Kekerasan jika digabungkan dengan kecanduan obat-obatan dapat meningkatkan situasi berbahaya yang sulit diatasi. Begitu pula pada korban kekerasan yang menjadi stres dapat memicu terjadinya penyalahgunaan zat dan berujung pada kecanduan obat.

Beberapa penelitian melaporkan hubungan siklus dan gangguan antara kekerasan dan kecanduan. Walaupun menggunakan narkoba atau alkohol tidak selalu menghasilkan perilaku kekerasan, tetapi kondisi ini dapat terjadi dalam situasi tertentu dan pada orang tertentu.

Obat-obatan seperti metamfetamin dan kokain dapat menyebabkan perilaku kekerasan pada orang yang menggunakannya. Mengonsumsi obat ini bisa menjadi semacam stimulan sehingga orang yang mengonsumsinya bisa kehilangan kontrol impuls dan memicu perasaan paranoia.

Halusinasi yang diakibatkan konsumsi jenis obat ini dapat menyebabkan orang bertindak kasar terhadap diri sendiri dan orang lain. Penyalahgunaan obat-obatan dapat menyebabkan peningkatan perilaku agresif, terutama kejahatan seks.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh University of Amsterdam, 50 persen dari pelanggar seks yang dipenjara memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan, dan 25–50 persen berada di bawah pengaruh pada saat melakukan pelanggaran.

Ini menunjukkan hubungan antara kecanduan zat dan kejahatan seks. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa metamfetamin dan kokain dapat meningkatkan perasaan gairah. Ketika hyperarousal dikombinasikan dengan kontrol impuls rendah, mereka yang berada di bawah pengaruh metamfetamin atau kokain lebih cenderung untuk bertindak berdasarkan dorongan tubuh. Seseorang mungkin terlibat dalam tindakan seksual berisiko tinggi, kekerasan, atau agresif, termasuk pemerkosaan dan kekerasan seksual.

Peristiwa Traumatis Bisa Memicu Kecanduan

Menjadi korban dan perilaku kekerasan dapat menjadi awal dari kecanduan obat atau zat lainnya karena peristiwa traumatis dapat memengaruhi kerja otak. Trauma membuat pikiran bekerja secara berlebihan, sehingga menyebabkan ketakutan, kecemasan, dan stres yang konstan.

Seseorang yang selamat dari pengalaman traumatis dapat terus-menerus menghidupkan mode bertahan hidup. Dalam arti otak bahkan dapat terus-menerus memutar kembali memori dari pengalaman traumatis, memaksa orang tersebut untuk secara tidak sadar menghidupkan kembali peristiwa tersebut.

Mengalami perasaan-perasaan ini sepanjang waktu bisa sangat luar biasa dan sangat menyusahkan bagi seseorang yang berusaha pulih. Akibatnya, banyak penyintas trauma beralih ke narkoba atau alkohol untuk mencari “pelarian”.

Sayangnya, jika penyintas trauma terus bergantung pada penggunaan obat-obatan untuk mengatasi emosi negatif ini, tubuh, dan otak akan menjadi tergantung pada obat-obatan atau alkohol untuk berfungsi secara normal. Jika mereka terus menggunakan obat untuk mengatasinya, bukan tak mungkin memicu kecanduan.

Mengonsumsi obat-obatan terlarang bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah. Justru dengan menggunakan obat-obatan secara tidak bertanggung jawab akan menjerumuskan seseorang ke dalam masalah baru.

Ada banyak cara untuk mengatasi trauma atau stres yang jauh lebih sehat dan direkomendasikan untuk dilakukan. Seperti olahraga atau melakukan hobi positif dan menyenangkan lainnya. Bahkan kamu bisa memilih jenis olahraga untuk mengalihkan agresivitasmu. Atau menjalani hobi-hobi lain yang bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *